Sprinter atau Middle Long Athlete, Mana yang Lebih Baik Masa Depanya
Sprinter / Long Runners, Keduanya Bisa Sukses Kalau Mereka Fokus Menjadi Yang Terbaik. Tulisan ini saya buat sebagai pandangan kilas saya menyoroti fenomena yang saya saksikan dalam beberapa tahun ini menemukan cinta sejati di dunia atletik. Tidak ada tendensi bahwa salah satunya lebih baik, Sprinter ataupun Middle Long Athlete sudah selayaknya untuk memiliki masa depan yang baik sebaik2nya posisi terhormat mereka sebagai pejuang nama besar Bangsa Indonesia.
Namun melihat kecenderungan di Indonesia, trend lari masih berpihak kepada pelari jarak jauh ditandai dengan event2 road run yang bertebaran dan menyediakan apresiasi hadiah luar biasa di nomor 5K, 10K, 21K dan 42K. jutaan, puluhan bahkan ratusan juta.
Pelari middle yang belum mendapatkan apresiasi setinggi itu mau tidak mau dituntut harus menguasai setidaknya nomor 5K kalau mau ikut kebagian manisnya kue di industri ini. Nomor2 dibawah itu masih jarang dibuat, kalaupun ada ya harus pintar2 mencari event yang menyediakan nomor 3K berhadiah bagus. Atau nomor 1 - 2K dimana sebenarnya lebih cocok untuk pelari middle lebih banyaknya dikompetisikan level Junior Dash under 13.
Lalu bagaimana nasib sprinter? Mereka harus menerima kenyataan bahwa lomba kebanyakan pada konsep track field dan tidak ada hadiah uangnya, kebanyakan hanya mendapat medali dan sertifikat. Ada saja pengalaman event dimana sprinter yang menang hanya mendapat hadiah 50-100rb padahal biaya pendaftarannya lenih dari itu. Untuk sprinter yang daerahnya cukup bagus, mereka beruntung bila kemenangannya dilaporkan dan masuk ke list penerima bonus atlet dispora yang biasanya lama cairnya.
Ketika ingin mendapatkan hasil besar, sebagian sprinter ada juga yang cari2 event tarkam atau ikut lari liar jadi joki dengan taruhan yang nominalnya besar. Namun dari sisi kelayakan, lari tanpa sepatu kecepatan tinggi, di aspal, malam2 telanjang dada bukanlah satu hal yang sehat untuk dilakukan jangka panjang, selain itu dari sisi agama uang taruhan bukanlah suatu hal yang halal. Tentunya atlet sebagai profesi juga mau mendapatkan kepastian hidup dan juga berkah bukan, honorium yang konsisten ini yang sulit didapatkan.
Demikianpun industri lari dari sisi stakeholder masih memenangkan jarak jauh sebagai pionir. Karena pertama, orang relatif lebih suka olahraga yg membuat mereka merasakan sensasi latihan durasi panjang yang membuat mereka seakan merasa sehat, lari jarak jauh menyediakan hal tersebut.
Kedua tidak semua orang tahu kalau sprint juga bisa menyehatkan dan membentuk rangsang pertumbuhan otot tulang yang baik, kebanyakan merasa sprint hanya untuk orang yang tidak bisa berlari jauh. Padahal di semua nomor ada seninya masing2, mau itu sprint, middle atau long semua ada tantangannya bagaimana bisa finish terdepan di dunia kompetisi berlari. dan tidak semua orang bisa jadi juara di semua nomor.
Ketiga ceruk pasar, karena kebanyakan orang berlari 3k - 5k untuk harian, produsen lebih senang fokus jualan mereka kepada sepatu daily trainer , carbon dan long run. Untungnya lebih besar, jutaan orang akan beli. Otomatis para pelari jauh kebagian berkahnya, endorser, content creator, influencer olahraga, sport enthusiast sampai tenaga ahli bilang olahraga seperti pelatih, asisten coach, strength training specialist, masseur, juga mendapat berkahnya.
Sprinter? kebanyakan dapat hikmahnya saja. Penjualan sepatu spike yang terbatas untuk kalangan atlet membuat brand masih terlalu malu2 all in kalau tidak mau dibilang malas atau khawatir karena penjualannya tentu tdk signifikan mendukung biaya produksi,promosi sampai biaya pencitraan lewat membayar branding atlet. 910 termasuk brand Indonesia pertama yang cukup berani investasi sepatu atletik yang relatif kurang menguntungkan, sisanya atlet2 harus beli sepatu cina atau pesan spike dari luar negeri. kalau tidak beli produk Nike atau Puma atau Adidas Spike KW Super di online.
Padahal lalu Zohri, wahyu Setiawan dan nama2 besar seperti suryo agung dan lain2 yang sudah mengharumkan nama bangsa di kancah dunia juga terbukti bisa sukses hidupnya, bahkan Suryo mendirikan brand sekolah lari Suryo Agung Running School, sama seperti perbandingan kalau di jarak jauh ada Agus Prayogo yang sukses dengan Brand Apparel Lari Aspro. Kalau di hitung medali ya sama saja Long, Middle, Sprint juga sama2 menyumbang medali di SEA Games.
Point pembedanya adalah, ketika masuk di dunia middle long run, atlet mendapat kesempatan yang lebih besar untuk mengisi posisi2 sesuai kapasitasnya. Tidak semua ditakdirkan memiliki kemampuan seperti robi sianturi, maka mereka bisa jadi seperti Roland Sihombing sang influencer lari, atau Fahril yg kemampuannya sudah seperti atlet namun belum masuk jajaran puncak nasional pun bisa mendirikan bimbingan fisik & juga bisa menang di lomba2 dengan level menyesuaikan.
Sedang di Sprint butuh pertaruhan habis2an sampai di level tertinggi untuk bisa mendapatkan masa depan yang terjamin, harus masuk Pelatnas agar bisa selayak 3 nama besar sprinter yang saya sebutkan diatas. Bagaimana di level daerah? Sprinter2 rata2 tidak bisa menjadikan atlet sebagai kehidupan utama karena kompetisi penunjang yang menghasilkan untuk bekal hidup tidak sebanya di dunia nomor jarak jauh. mereka harus tetap punya pekerjaan utama yang tentunya, atlet dengan kondisi harus sampingan dengan kerja lain tidak bisa sefokus performa atlet yang 100% totalitas profesi tugasnya hanya berlatih dan berlomba. Kebanyakan Atlet Middle Long Bisa Fokus Jadi Atlet dan hidup dari penghasilannya sebagai atlet.
Maka jangan salahkan kalau di kompetisi2 mewakili daerah secara pragmatis banyak diambil atlet2 dari Angkatan yang memang aktivitas sehari2 mereka dituntut fisik prima. Tinggal di fokuskan pada pemusatan persiapan Kejuaraan, para tentara ini sudah mendekati siap untuk diturunkan, Sprinter atau Middle Long Run, patriot2 ini siap perintah.
Angin segar mulai terlihat ketika runtizen di dunia perlarian mulai tertarik melirik sprint sebagai sebuah hobi menyenangkan walau belum rutin dilakukan. Event2 Relay Sprint komunitas seperi asics eksiden, 180 SPM RPM, dan lomba relay sprint lainya yang mempertandingkan 100x4, 200x4 hingga 400x4 mulai menjadi trigger untuk memberi tempat yang dapat diisi oleh sprinter2 potensial. Eventnya mulai ramai dan rutin serta hadiahnya cukup bagus walau belum seintens road long run.
Pada akhirnya, kita semua ingin para sprinter juga bisa mendapat tempat terbaik dalam dunia masa depan atlet atletik. Seperti di negara2 legenda sprint, Amerika Serikat, Jamaica, Canada, sprinter sangat dihargai mahal, bahkan penghasilan mereka bisa lebih besar dari pemain bola dunia, sebut saja noah Lyles, Usain bolt, De Grasse, jangan ditanya berapa tabungan mereka pasca pensiun lari. Dari kerja keras bertahun2 menjadi atlet di usia 30an mereka sdh cukup untuk pensiun tanpa harus menguras fisik lagi dan hidup nyaman 7 turunan. Pertanyaanya, kapan sprinter kita akan bisa menuju masa depan demikian?
Semoga Segera Menuju Kesana.(*)
Varhan Abdul Aziz
Ketua DPP LIRA, Bidang Pemuda & Olahraga


