MBG Diduga Basi, Siswa SDN 075045 Somi Tak Makan, DPD LIRA Soroti Transparansi SPPG Hilizoi Gido
KABUPATEN NIAS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Hilizoi Gido menjadi sorotan setelah makanan yang dibagikan kepada siswa SDN 075045 Somi pada Jumat disebut tidak dikonsumsi karena diduga sudah basi.
Menindaklanjuti informasi tersebut, Dewan Pimpinan Daerah Lumbung Informasi Rakyat (DPD LIRA) Kabupaten Nias melakukan pemantauan langsung ke SPPG Hilizoi Gido yang berada di Desa Hilizoi, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, Selasa (18/8/2026).
Kepala SPPG Hilizoi Gido, Samuel Warta Kasih Ndraha, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa makanan MBG sempat dibagikan kepada siswa SDN 075045 Somi. Namun, setelah diketahui terdapat lauk yang diduga sudah basi, makanan tersebut tidak dikonsumsi oleh para siswa.
Menurut Samuel, salah satu menu yang menjadi persoalan adalah telur puyuh yang kondisinya sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
“MBG sempat dibagikan kepada siswa. Kalau sejak awal diketahui basi, tentu tidak akan dibagikan,” ujar Samuel.
Ia mengatakan pihak SPPG Hilizoi Gido kemudian mengambil langkah dengan mengganti makanan tersebut. Para siswa, kata dia, diberikan porsi pengganti dengan jumlah dua kali lipat.
“Namun, kami dari SPPG Hilizoi Gido mengganti dengan porsi double kepada siswa SDN 075045 Somi,” katanya.
Di tengah persoalan tersebut, DPD LIRA Kabupaten Nias juga menyoroti sikap pengelola SPPG Hilizoi Gido yang disebut tidak memberikan akses kepada pihaknya untuk melihat secara langsung kelengkapan fasilitas dapur SPPG.
Samuel menjelaskan bahwa pihaknya tidak dapat memperlihatkan kondisi dan kelengkapan dapur tanpa adanya surat tugas. Menurutnya, ketentuan tersebut merupakan petunjuk dari koordinator wilayah.
“Harus ada surat tugas. Petunjuk ini dari Korwil,” jelas Samuel.
Samuel juga menyampaikan bahwa jumlah penerima manfaat MBG yang dilayani SPPG Hilizoi Gido mencapai 2.361 orang, mulai dari jenjang PAUD, SD, SMP hingga SMK.
Sementara itu, Aktivis DPD LIRA Kabupaten Nias, Aroziduhu Gulo, menilai bahwa pengelolaan SPPG seharusnya dilakukan secara transparan, terlebih program tersebut menyangkut makanan yang dikonsumsi oleh ribuan anak sekolah.
Menurut Aroziduhu, tidak seharusnya fasilitas maupun mekanisme pengelolaan dapur SPPG ditutup-tutupi dari pengawasan, baik pengawasan internal maupun eksternal.
“Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dalam pengelolaan dapur SPPG. Program ini diperuntukkan bagi anak-anak siswa dan menggunakan uang negara. Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara terbuka,” tegas Aroziduhu.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pemantauan yang pernah dilakukan DPD LIRA Kabupaten Nias di SPPG We'a-We'a, Kecamatan Sogaeadu. Menurutnya, saat dilakukan pemantauan, pihak kepala SPPG bersama mitra bersedia memperlihatkan fasilitas dapur secara terbuka.
“Ketika kami melakukan pemantauan di SPPG We'a-We'a Sogaeadu, pihak kepala SPPG dan mitra memperlihatkan seluruh fasilitas dapurnya tanpa ragu-ragu,” ungkapnya.
Aroziduhu menilai kondisi di SPPG Hilizoi Gido perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut. Ia bahkan mempertanyakan apakah fasilitas dan persyaratan SPPG tersebut telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Kami menilai SPPG Hilizoi Gido patut diperiksa untuk memastikan apakah seluruh persyaratan dan fasilitas yang tersedia sudah memadai,” katanya.
DPD LIRA Kabupaten Nias, lanjut Aroziduhu, berencana menyampaikan laporan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar dilakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap SPPG Hilizoi Gido.
Terpisah, Ketua Komite SDN 075045 Somi, Denius Gulo, saat dikonfirmasi melalui telepon seluler membenarkan adanya kejadian tersebut.
Ia mengatakan makanan MBG yang diterima dari SPPG Hilizoi Gido pada Jumat tidak dikonsumsi oleh siswa karena kondisinya disebut sudah basi.
Denius mengaku khawatir kejadian serupa dapat kembali terjadi dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan anak-anak.
“Kami mengkhawatirkan kejadian seperti ini terulang kembali. Kami berharap BGN dan Korwil melakukan pemantauan serta evaluasi,” ujarnya.
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian publik, mengingat program MBG ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dan melibatkan anggaran negara. Karena itu, kualitas makanan, keamanan pangan, kelayakan fasilitas dapur, serta transparansi pengelolaan menjadi hal yang penting untuk dipastikan.
DPD LIRA Kabupaten Nias menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut dan mendorong BGN melakukan pemeriksaan terhadap SPPG Hilizoi Gido.(*)


