Diskusi Publik FPPJ Bahas Strategi Kewaspadaan Dini dalam Transisi Jakarta Kota Global
JAKARTA - Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) sukses menggelar diskusi publik bertajuk “Jakarta Kota Global dan Berbudaya: Peran Kewaspadaan Dini dalam Semangat Jaga Jakarta” di Aula Perpustakaan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Rabu (24/06/2026). Diskusi ini dipandu oleh Abid Zahid Fadilah, Ketua Umum Mahasiswa Muda Transparansi (MMT), selaku moderator.
Dalam sambutannya, Ketua Umum FPPJ, Endriansyah, menegaskan bahwa gerakan #JagaJakarta bukan sekadar slogan, melainkan wujud komitmen nyata pemuda dalam mengawal pembangunan kota.
”Jakarta yang tangguh adalah milik kita bersama. FPPJ berkomitmen menjadi garda terdepan dalam membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemuda. Kami akan terus mendorong ruang dialog inklusif agar aspirasi warga di akar rumput terserap dengan baik, demi menciptakan Jakarta yang aman, tertib, dan berbudaya dalam menyongsong usia 5 abad,” ujar Endriansyah.
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan yang menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam transisi Jakarta sebagai kota global:
Hj. Rany Mauliani (Wakil Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta): Menekankan bahwa status kota global menuntut kesiapsiagaan sosial yang tinggi, di mana pemuda harus mengambil peran aktif sebagai agen perubahan.
Matsani (Kepala Kesbangpol DKI Jakarta): Memaparkan upaya menjaga stabilitas sosial melalui program partisipatif seperti “Ngopi Cetar”, yang bertujuan menyerap aspirasi warga menjadi policy brief yang terukur.
Kolonel Cba Agus Kosasih, S.E. (Komandan Satuan Khusus Satintel BAIS TNI/Tim Kewaspadaan Dini Pemprov DKI): Menggarisbawahi pentingnya mitigasi ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan). Menurutnya, sistem kewaspadaan dini yang efektif memerlukan integrasi teknologi, respons cepat, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Andi Syafrani (Presiden LIRA): Mengusulkan transformasi gerakan masyarakat sipil dari sekadar oposisi menjadi kolaborasi konstruktif melalui “Ekosistem Sinergi Jakarta” yang berlandaskan partisipasi pembangunan, pengawasan sosial, gotong royong modern, dan edukasi nalar kritis.
Chico Hakim (Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta): Selaku keynote speaker, ia menekankan bahwa dalam upaya mengadopsi praktik terbaik dunia, Jakarta harus tetap mempertahankan identitas dan nilai-nilai budayanya.
Sebagai hasil dari diskusi ini, FPPJ merekomendasikan pembentukan Posko Informasi Pemuda, Gerakan Anti-Hoaks, serta Forum Sinergi Jaga Jakarta. Wadah-wadah ini diharapkan menjadi sarana untuk mengevaluasi isu-isu kewilayahan secara berkelanjutan.
Sinergi yang terbangun melalui kegiatan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi Jakarta untuk mewujudkan visi kota global yang maju, inklusif, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal.(*)


